Ziarah

Dua pekan yang lalu, tepatnya di Hari Senin 5 Juni 2017 memutuskan untuk ngabuburit ke Blok M – Jakarta. Tujuannya satu, yaitu nonton Film Ziarah karya dari Produser, Sutradara dan Penulis BW Purba Negara. Tertarik liat film ini setelah melihat beberapa cuitan yang intinya bilang ‘tuk sempatkan nonton film.

Film Ziarah_01
Sumber : facebook.com

Salah satu keinginan dari Mbah Sri diusia senjanya adalah ketika ia meninggal nanti, ia ingin dikuburkan berdampingan dengan makam sang suami yaitu Mbah Prawiro. Sang suami pergi berperang pada Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948. Namun, setelah perang usai, Mbah Prawiro tak pernah kembali.

Berbekal informasi seadanya dari beberapa veteran perang yang dahulu pernah mengenal atau tahu mengenai suaminya, Mbah Sri mendatangi satu per satu tempat tersebut. Walaupun demikian kenyataan yang ada tak seindah harapan.

IMG_20170605_184800_633
Nonton Film Ziarah di Blok M Square 21

Dikemas dengan sederhana, alur yang lambat ( hati2x, jangan sampai tertidur ), bentangan alam perdesaan yang khas dan disajkan mayoritas dalam bahasa Jawa, Film Ziarah mampu meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Deep …

Tidak sia-sia menempuh perjalanan dengan Commuter Line dan Bus Trans Jakarta dari Depok sampai ke Blok M. Ponco Sutiyem sebagai Mbah Sri mampu menampilkan sosok yang gigih, sabar sekaligus ikhlas. Selain Ponco Sutiyem, film ini juga didukung oleh Rukman Rosadi, Ledjar Subroto dan Vera Prifatamasari.

Film Ziarah_02

Film Ziarah berhasil meraih dua penghargaan yang diraih tersebut adalah untuk kategori Best Screenplay dan Special Jury Award dalam ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) di Kuching, Serawak, Malaysia. Sedangkan lewat peran Mbah Sri, Ponco Sutiyem diganjar nominasi sebagai Artis terbaik di ajang yang sama.

Pesan moral yang saya tangkap dari Film Ziarah adalah Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

.

.

.

SPOILER ALERT !!!

Setelah perjalanan panjang ( 87 menit dalam film) Mbah Sri berhasil menemukan makam Mbah Prawiro. Etapi, dia seperti menelan pil pahit. Kenapa? Karena ternyata disisi makam tersebut sudah ada makam lainnya. Makam seorang perempuan yang kuat dugaannya adalah istri lainnya dari Mbah Prawiro.

Periiih …. Dicukain ….

Si Mbah Sri harus ikhlas dan sabar  😦