Mudik H-1

Karena satu dan lain hal (baca : jatuh dari motor, dengkul busrut dan lebam) saya baru berangkat mudik ke Darmaraja, Sumedang satu hari menjelang lebaran atau H-1. Rencana awal, akan berangkat mudik di Hari Rabu (21/06). Tapi Tuhan punya rencana lain.

Saya sempat mengurungkan niat mudik dengan sepeda motor dan akan naik transportasi umum saja. Untuk keamanan motor akan dititipkan di Polresta Depok. Oiya, Polresta Depok menyediakan pelayanan penitipan kendaraan bermotor baik roda 2 ataupun roda 4 selama masa libur lebaran bagi masyarakat yang akan mudik. Gratisss. Cukup bawa fotokopi SIM dan STNK, kendaraan Anda bisa dititip. Layanan tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun kebelakang.

Alasan lainnya karena rute via Jonggol yang biasa saya lalui, tepatnya Jembatan Cipamingkis patah. Jadi akses kendaraan dari Jonggol ke Cariu atau sebaliknya terhambat dan harus melalui jalur alternatif lainnya. Namun, pada akhirnya saya tetap mudik dengan mengendarai sepeda motor dan melalui Jalur Puncak.

Processed with VSCO with c1 preset
berangkattt !

Bisa dibilang semesta bersekongkol memberikan kemudahan buat saya dalam perjalanan mudik kemarin. Cuaca yang teduh, agak berangin dan gerimis kecil-kecil; serta rute perjalanan Depok РBogor РCianjur РBandung РSumedang yang relatif lancar. *SujudSyukur

Kepadatan hanya terjadi di 4 kawasan, yaitu Pasar Cibinong, Pasar Cisarua, Pasar Ujung Berung dan Pasar Tanjungsari-Alun2. Di kawasan pasar, bisa menebakkan kenapanya?! Lintas Padalarang dan Cibiru – Cileunyi yang biasanya macetnya gak santai, kemarin itu relatif lancar. [Hoorayyy]

 

Processed with VSCO with c1 preset
Menanjak, Menurun dan Berkelok di Kawasan Puncak, Bogor
Processed with VSCO with c1 preset
Rute Perjalanan Relatif Lancar

Asyiknya mudik dengan kendaraan pribadi adalah kita yang menentukan ritme perjalanan. Mau jalan terus atau berhenti beberapa saat ketika menemukan tempat yang enak untuk rehat. Tidak melulu direst area. Ataupun bisa mampir ke lokasi wisata. Nah, kemarin saya memilih rehat sejenak dan naik ke Bukit Si Kabayan di Objek Wisata Alam Ciliwung Telaga Warna, Kebun Teh Ciliwung, Puncak.

Processed with VSCO with c1 preset
Path to the awesomeness
Processed with VSCO with c1 preset
Di atas Bukit Si Kabayan

Lokasi    : Bukit Si Kabayan, Kebun Teh Ciliwung

HTM       : Rp10.000,-/orang

Fasilitas : Sightseeing; Hiking; Selfie/Wefie Spot; Flying Fox

Letaknya yang persis diperbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur (dekat patok perbatasan) atau naik sedikit setelah Restoran Rindu Alam kalau dari arah Bogor dan setelah puncak pass kalau datang dari arah Cianjur. Naik tangganya lumayan bikin hahehoh. Kalem aja pas naiknya. Tapi setelah sampai di atas, wow kece beud pemandanganya. Anda bisa foto2 atau sightseeing sepuasnya.

Menurut saya, lokasinya not suitable for children under 10 yo. Apalagi kalau anaknya petakilan. Ataupun kalau mau bawa anaknya ke naik ke bukit ini para orang tua harus ekstra perhatiannya.

Processed with VSCO with g3 preset
Me, liking this …

 

Processed with VSCO with c1 preset
Pemandangan Dari Atas Bukit Si Kabayan
Processed with VSCO with c1 preset
Area Flying Fox untuk Adrenaline Seeker

Sepertinya ada yang jualan di atas sini. Kalau sedang tidak puasa, sepertinya boleh juga menyeruput minuman hangat (kopi/susu/teh) atau mie rebus dan bakso chuanky ditemani tamparan lembut angin sepoi-sepoi dipipi Anda. Yakan … kan

Processed with VSCO with c1 preset
Tida’ atau belum jualan si mang nya

Setelah 11 jam perjalanan (udah sama istirahat beberapa kali dan jalan2 di Bukit Si Kabayan dan Lapangan Gasibu) akhirnya sampai juga di Darmaraja, Sumedang. Wohooo.

Jadi, pada mau ngisi libur lebaran kemana nih ?

Perubahan di Jatibungur

Perubahan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Bahkan ada yang berujar kalau di dunia ini satu hal yang abadi adalah perubahan.

Lokasi ini dahulunya adalah jalan yang menghubungkan Kecamatan Darmaraja dan Kecamatan Wado di Kabupaten Sumedang. Tepatnya di Desa Jatibungur yang merupakan salah satu dari 21 desa terdampak penggenangan air #wadukjatigede yang membendung aliran Sungai Cimanuk. Jalur alternatif menuju Kabupaten Garut dan Tasik via Malangbong.

img_20170315_070030-01-01
Jatibungur, Sumedang

Setiap kegiatan relokasi penduduk ada ongkos sosial yang harus dibayar. Ada masyarakat yang tercabut dari asal asulnya, tempatnya lahir dan tumbuh berkembang menjadi manusia seutuhnya. Ada situs budaya yang harus berpindah dan mengalami perubahan sisi historisnya. Namun, diharapkan perubahan ini memberi dampak positif untuk kepentingan yang lebih besar lagi.

Kita perlu dan harus mau beradaptasi dengan perubahan yang ada untuk dapat bertahan. Masyarakat yang terdampak relokasi tersebut pun demikian. Mereka yang secara langsung terdampak karena tempat tinggal dan tempat mereka berkegiatan ekonomi (misal : sawah atau toko) menjadi arel genangan harus beradaptasi dilokasi yang baru. Namun, untuk masyarakat yang tidak direlokasi dan masih bertempat tinggal disekitar areal genangan harus beradaptasi dengan perubahan cuaca yang lebih hareudang ketika musim panas dan kenyataan bahwa wilayah dekat tempat tinggalnya berubah menjadi areal tujuan wisata baru.

img_20170315_111647
Puncak Damar, Situraja Sumedang

Kegiatan perekonomian yang dahulunya didominasi dengan sektor pertanian dan perdagangan, saat ini digenapi dengan sektor pariwisata. Areal tujuan wisata baru tumbuh dan terus berkembang di Kabupaten Sumedang. Tanjung Duriat, Puncak Damar, lokasi wisata air seperti di Cipaku, Cisema, Ciduging, Kapunduhan dan Jatibungur adalah beberapa diantaranya. Lokasi wisata pemancingan, olah raga air dan sightseeing adalah menu utamanya.

IMG_20170315_060823-01
Pagi hari di Jatibungur
IMG_20170315_060840-01
Belum banyak aktifitas, perahu pun masih terikat di dermaga

Perubahan pun telah terlihat ketika musim libur tiba. Contohnya ketika libur lebaran tahun lalu. Jalur Sumedang –¬†Darmaraja padat, disesaki mobil pemudik dan wisatawan yang dari dan ke lokasi wisata. Jalur tersebut yang biasanya hanya ditempuh dalam waktu 45 menit sampai 1 Jam perjalanan, kemarin menghabiskan waktu beberapa jam untuk sampai di Darmaraja. Lama yak?! hehehe

When life give you a lemon, make lemonade

Rain don’t stop us! How about we dancing in the rain instead

Yuk berubah . . .

Jogja Trip – Day 3 : World Heritage Site

Candi Borobudur, Magelang – Jawa Tengah

Dihari ketiga ini, sembari perjalanan menuju Depok, kami mampir sejenak ke lokasi yang pada tahun 1991 dianugerahi gelar sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO yaitu Candi Borobudur. Sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Letaknya sekitar kurang lebih 40 km disebelah barat laut dari Yogyakarta.

IMG_20170122_115128
Di puncak Candi Borobudur (Stupa utama dkk)

Didirikan sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra, Borobudur merupakan candi atau kuil Buddha terbesar di dunia sekaligus menjadi salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Candi ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar. Pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.

Kami datang ke Candi Borobudur pada Hari Minggu. Lokasinya ramai dan (ternyata) di Puncaknya panas sekali, seperti dikecup Matahari. Pantas saja ketika dalam perjalanan dari tempat parkir ke pintu masuk banyak sekali yang menawarkan topi, air minum kemasan ataupun sewa payung. Saya pribadi lebih memilih sewa payung, cukup dengan Rp5000-,

IMG_20170122_110445
Pendopo Pintu Masuk (loket tiket berada disebelah kanan pendopo)

Dengan membayar tiket masuk Rp30.000-, para turis sudah bisa menjelajahi kompleks Candi Borobudur. Terdiri atas Candi Borobudur itu sendiri dan beberapa museum yang masih terletak  di dalam kompleks tersebut. Jarak dari pintu masuk sampai ke lokasi Candi Borobudur ternyata lumayan juga, sekitar 1-2 km. Tapi tenang, ada fasilitas mobil yang bisa memudahkan Anda (bayar lagi tapi dapet air mineral ukuran 330ml).

IMG_20170122_114551
Barisan turis yang sedang mengantri untuk naik ke puncak Candi Borobudur (tangga sisi timur)
IMG_20170122_114959
Relief pada dinding dan pagar langkan disalah satu sudut Candi Borobudur
IMG_20170122_121630
Disisi lainnya … kepala patung Buddha ada beberapa yang sudah rusak

Ketika sudah sampai di puncak Candi Borobudur, Anda bisa menikmati pemandangan sekitar kompleks candi yang indahnya bukan main. Langit biru, awan putih dan barisan pegunungan yang hijau dari Dataran Kedu memanjakan mata Anda. Sesaat lupa betapa panasnya di atas sini. Payung mana? payung mana ?

IMG_20170122_115313
Stupa berlubang belah ketupat
IMG_20170122_121408
Stupa berlubang belah ketupat (juga)

Terkait stupa berlubang belah ketupat ini, ada mitos yang dipercaya masyarakat bahwa siapa saja yang merogoh ke dalam sebuah stupa berlubang belah ketupat dan dapat menyentuh bagian tertentu dari tubuh arca Buddha yang ada di dalamnya maka ia akan mendapatkan keberuntungan atau terkabul keinginannya. Mitos ini dikenal dengan sebutan Kunto Bimo. Kemarin itu nyobain juga menyentuh arca Buddha tersebut dan berhasil. Yeayyy

IMG_20170122_115920
Turis Depok di dekat Stupa berlubang persegi

Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak candi, saya turun. Ternyata tangga ketika naik dan turun berbeda tempatnya. Tangga naik pengunjung ada di sisi timur, sedangkan tangga turun ada di sisi utara. Supaya tidak macet mungkin ya dan mengurangi laju aus pada permukaan batu pada tangga. Nah, untuk mengurangi laju aus tersebut tangga diberi pelapis berupa karet atau besi. Pada memperhatikan tidak?!

IMG_20170122_122310
Tangga ketika turun (sisi utara candi)

Beberapa tahun belakangan, kawasan kompleks sekitar Candi Borobudur juga dijadikan lokasi lomba lari marathon. Kebayang cakepnya. Saya memasukan acara lomba lari marathon disini ke bucket list saya, tentunya bersama lomba lari marathon di Bali, Lombok dan di Suramadu juga. Semoga terkabul, amin 3X yra.

Tidak hanya pemandangan di Puncak Candi Borobudur saja yang menarik, disisi bawahpun tak kalah keindahannya. Lihat saja foto di bawah ini.

IMG_20170122_123234
Ala-ala FTV bukan ?!

Puas tidak? tentu tidak. Lain kesempatan masih mau kesini lagi dan meluangkan waktu seharian atau lebih untuk jelajah kompleks Candi Borobudur. Kenapa? Lah, wong relief pada dinding dan pagar langkan candi itu konon kabarnya punya cerita masing-masing. And i missed that, so sad.

IMG_20170122_125052

IMG_20170122_125027

Gowinda House 2, Sleman – Yogyakarta

Selama 3 malam di Yogyakarta, kami menginap di Gowinda House 2 yang beralamat di Gabugan 5/15 Pandowo Harjo, Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

Tempatnya luas (4 kamar tidur dan 3 kamar mandi) cukup untuk rombongan besar 20 orang seperti kami. Bersih dan tenang karena letaknya agak masuk ke dalam. Cari di Google Maps atau aplikasi penyewaan penginapan juga sepertinya ada.

Gorjes kan?!

img_20170121_054537
Terimakasih sudah mengantar kami selama Jogja Trip 2017

Catatan : ini bukan postingan berbayar, hanya pengguna yang puas

Jogja Trip – Day 2 : Let’s Get Wet

Dihari ke -2, aktivitas plesiran berpusat di  Kabupaten Gunungkidul. Terletak dibagian selatan dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar +/- 2 jam dari tempat kita menginap di Daerah Sleman. Kabupaten ini terdiri atas 18 kecamatan dan memiliki Pusat Pemerintahan di Kecamatan Wonosari. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur yang identik dengan daerah tandus dan mengalami kekeringan di musim kemarau. Namun, Gunungkidul menyimpan potensi yang besar di bidang pariwisata. Blessing in disguise !!! Berikut adalah 3 diantaranya.

Goa Pindul, Gunung Kidul – Yogyakarta

Wisata Goa Pindul berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Objek wisata yang menawarkan wisata Caving Goa Gelatik, River Tubing Kali Oyo dan Cave Tubing Goa Pindul. Bedanya apa dari ketiganya?

img_20170121_114529

Well, Caving Goa Gelatik yaitu wisata menelurusi Goa Gelatik dengan jalan kaki. Konon, dulunya di Goa Gelatik suka ada yang bertapa untuk mendapatkan ketenangan diri. Namun sekarang sudah tidak lagi, dan berubah menjadi lokasi wisata.

Sedangkan River Tubing Kali Oyo dan Cave Tubing Goa Pindul punya kesamaan, yaitu sama2 menelusuri baik sungai atau goa (pilih salah satu, tapi kalau mau dua-duanya juga tidak apa2) dengan alat bantu ban pelampung. Tentunya dikawal dengan pemandu juga.

Kemarinan, saya dan manteman ambil Cave Tubing Goa Pindul. Menelusuri goa sepanjang 350 meter, lebar 5 meter dengan kedalaman air antara 5-12 meter. Start dari mulut goa dan berakhir di dam. Goa Pindul terbagi menjadi 3 zona, yaitu zona terang, zona remang dan zona gelap.

img_20170226_141140
Foto dulu sebelum cave tubing Goa Pindul

Berhubung kami datang di Hari Sabtu, jadi lokasinya ramai pakai banget. Lumayan juga nunggu antrian masuk ke Goa Pindul sambil terapung di atas ban pelampung. Kebetulan ban yang saya ambil ternyata terlalu kecil untuk ukuran postur tubuh saya. Sehingga sepanjang perjalanan menelusuri goa jadi sering mengatur posisi duduk. Tapi tetap saja …..

img_20170226_140849
Ban pelampungnya terlalu kecil buat saya

(Pak Gozali sampai puas banget ketawanya, melihat saya yang coba duduk tenang tapi mukanya sama sekali tidak santai karena menahan beban tubuh plus khawatir ban pelampungnya akan terbalik dan atau karam). Sampai sekarang, kalau ketemu dia masih ditertawakan coba. Kzl

Sampai pada satu titik, di zona remang ketika melihat ada tangga yang mengarah ke atas terbersit niatan untuk menyudahi saja penelusuran gua ini. Moi, yamate . . . Namun niatan itu saya urungkan. Jauh2 ke Yogya, moso berhenti sampai disini. Teu kaci ah.

Kesabaran berbuah manis. Di dalam Goa Pindul ini pemandangannya keren, seperti foto di atas. Ada juga formasi bebatuan stalaktit, sejenis mineral sekunder yang menggantung di langit-langit gua kapur. Bahkan ada stalaktit yang sudah tumbuh sampai bawah dan menjadi seperti pilar. (Maafkan tidak ada fotonya, coba googling deh) Beberapa batuan karst masih hidup dan meneteskan air. Oia, aliran sungai yang berada di dalam Gua Pindul berasal dari mata air Gedong Tujuh

Jadi ya, waktu sebelum sampai lokasi pada foto di atas gandengan Uni Era dan Pak Dhany putus coba. Was-was kan. Padahal masih jauh sampai ke dam. Akhirnya gandengan yang terputus itu disatukan lagi sama bapak pemandunya. Ah, lega . . .

img_20170121_114139

Udahnya … Dari leher sampai ke pinggang pegel banget ūüė¶

Nah, untuk menikmati sensasi menelusuri Goa Pindul pake ban, Anda tidak perlu merogoh kocek dalam2, cukup RP45.000 saja. Adapun dana tersebut meliputi:

  • Rp10.000/orang untuk retribusi masuk kawasan pindul
  • Paket Cave Tubing Goa Pindul Rp35.000 (Wisatawan lokal) dan Rp50.000 (Wisatawan mancanegara) yang terdiri atas : jasa pemandu, perlengkapan (ban dan jaket pelampung) dan asuransi

Tambahan : Hari tersebut makan siangnya pake Gudeg Yu Djum yang tersohor itu. Memang bukan dipusatnya tapi beli di cabangnya yang beralamat di Jalan Raya Jogja – Wonosari Km 7, Playen. Enak, ada manis-manisnya gitu. Oke, sah ya plesiran ke Yogya nya.

Pantai Kukup dan Pantai Pulang Sawal, Gunung Kidul – Yogyakarta

Setelah bebersih, salat dan makan siang, kami menuju ke lokasi selanjutnya. Pantai Kukup dan Pantai Pulang Sawal. Kalau dilihat dari Google Maps Pantai Kukup itu terletak +/- 24 Km dari Wonosari atau +/- 34 Km dari Objek Wisata Goa Pindul. Sedangkan, Pantai Pulang Sawal berjarak 9,2 km dari Pantai Kukup melalui Jalan Pantai Selatan Jawa.

Pantai Kukup terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini memiliki pasir yang putih terhampar luas dan pemandangan pantai yang indah di wilayah selatan Pulau Jawa.

img_20170121_152718
Pantai Kukup

Pantai Kukup mempunyai daerah laut dangkal yang cukup tenang berjarak sekitar 100 m dari bibir pantai. Daerah dangkal ini dibatasi dengan gundukan terumbu karang pada ujung pantai yang seolah-olah melindungi pantai dari hempasan ombak besar.

wp_20170121_15_24_48_pro-01
Ombaknya besar uy . . .

Kami disini tidak terlalu lama, karena ombak besar dan terlalu beresiko untuk nyemplung dan bermain air disini. Jadi, setelah -/+ 1 Jam kami berpindah ke pantai lainnya. Setelah sempat masuk ke beberapa pantai lainnya, ternyata kondisi ombaknya kurang lebih sama sampai akhirnya kami memutuskan turun di Pantai Pulang Sawal.

Pantai Pulang Sawal atau disingkat dengan Pantai Pulsa yang justru lebih terkenal dengan sebutan Pantai Indrayanti. Padahal Indrayanti bukan nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Pantai ini adalah salah satu pantai yang menarik dan eksotis berada di Dusun Ngasem, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

img_20170121_175531
Menjelang Matahari Terbenam di Pantai Pulang Sawal

Sepanjang garis pantainya relatif bersih dan bebas sampah. Ombaknya pun relatif kuat sampai-sampai ketika bermain air di bibir pantai, petugas penjaga pantainya tidak bosan-bosan mengingatkan kami lewat pengeras suara untuk tidak terlalu ketengah. Saking kuatnya ombak ada teman yang celananya sempat lepas karena keterjang ombak. Loh kok bisa yah ?! hmmm …

img_20170121_175306_hdr
Just chillin’

Sudah paling pas aktivitas ketika di pantai ya main sepak bola, voli pantai, main pasir dan main air (baca : cemplungin Pak Poer, Bu Roma dan Bu Ami ke laut). Ataupun sekedar duduk santai di atas pasir putih menunggu matahari terbenam¬†just chillin’. Rasanya itu nyesss dan re-charged.

Merelakan resah itu dipeluk deburan ombak dan dibawa pergi jauh. Membiarkan angin laut menyapu lelah di wajahmu dan mengacak-acak rambutmu yang bebas ketombe berkat shampoo kepala dan pundak.

Dengan membayar retribusi Rp10.000/orang, Anda sudah bisa menikmati semua ini. Dan tentunya tidak lupa biaya parkir kendaraannya juga. Jangan khawatir, baik itu di Pantai Kukup ataupun di Pantai Pulang Sawal banyak kios2 yang menjajakan makanan, minuman dan souvenir. Anda tidak akan kesulitan mencari rokok, kopi ataupun popmie. Jaraknya cuma sepelemparan batu.

img_20170121_175940-01
This was how we spent our afternoon. Sitting on the beach. Waiting the Sun to set. Together !

That was superb, wasn’t it ?

= = =

Dua lokasi yang dikunjungi pada Day 2 ini adalah lokasi wisata main air. Jadi basah-bahasan kita. Segitu dulu, nanti lanjut pada postingan Day 3. Makasih udah berkenan baca and tell me about it

Jogja Trip – Day 1 : Places to do selfie

Kurang lebih 1 bulan yang lalu, saya dan beberapa rekan kerja (sekitar 20an orang) di Program KOTAKU Kota Depok berangkat ke Yogyakarta. Perjalanan ini punya tagline : Move on : 100-0-100. Berangkat dari Depok, Kamis siang menjelang sore sekitar jam 15.00 dan diharapkan bisa sampai di Magelang sebelum waktu Subuh.

img_20170120_055709

Super excited !!! Karena bakal lewat Jalan Tol Cikopo ‚Äď Palimanan atau Cipali. Belum pernah, soalnya. Secara orang Sumedang, seringnya ya Jalan Tol Cipularang. Secara umum, jalan lurus dan panjang jadi tantangan ketika masuk ruas tol ini. Membentang 116 km dari daerah Cikopo, Purwakarta sampai Palimanan, Cirebon Jawa Barat.

Beruntung, kami lewatnya malam hari. Agak gelap memang ruas tol nya, akan tetapi jadi cakep ketika melewati Daerah Brebes dimana disisi kanan jalan tol (kalau dari arah Cikopo) cahaya lampu dari areal tanaman bawang sukses jadi sajian yang sedap dipandang mata.

Walaupun sempat ada kejadian kempes ban ditengah hutan jati (jalur Weleri – Subah, arah mau ke Semarang) yang gelap, tapi kami bisa sampai di Magelang sebelum waktu subuh. Setelah istirahat, salat dan bersih-bersih rombongan melanjutkan perjalananan ke lokasi pertama.

Top Selfie Pinusan Kragilan, Magelang – Jawa Tengah

Sampai dilokasi sekitar jam 6.30, udara dingin masih belum beranjak pergi. Sepertinya semalam hujan atau memang ciri khas pegunungan. Sambil menuruni jalan menuju lokasi ber-selfie ria, kabut pun beranjak naik. Sepertinya mereka telah disapa sinar matahari. It was so magical.

img_20170120_061043

I was hesitant at first, but i join this trip anyway. Thirteen hours bus ride from Depok, we arrived in Magelang and given this amazing view of pine forest.

img_20170120_070833
Gunungnya tersembunyi dibalik dahan dan ranting … tsakep

Top Selfie Pinusan Kragilan berada di Dusun Kragilan, Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang. Ask Google ! Hutan pinus ini berada di lereng Gunung Merbabu. Waktu dilokasi, saya pribadi tidak mengalami harus bayar tiket atau sejenisnya. Sepertinya kemarin bayar parkir saja. Kami kepagian mungkin.

img_20170120_070737
Waktu liat ini, satu singkatan yang muncul di kepala . . . DPT

Jantung ini berdegub kencang, napas bergemuruh naik dan turun. Cakep banget soalnya. Kayak pas ketemu orang yang kita suka. Tapi ini gak membuat punggung sampai pinggang sakit, hadeeeh (sabar, dipostingan selanjutnya ya)

img_20170120_071511

speechless . . .

Awalnya saya tidak tahu, tapi konon kabarnya tempat ini hits sekali di jejaring Instagram sebagai tempat foto selfie dan foto pre-wedding. Coba saja cari #topselfiekragilan atau #kragilan bakal banyak foto bagus ditempat ini.

So, why don’t we take a selfie/wefie or group photo?

img_20170120_061528
Muka bantal …
img_20170120_065308
Belum pada mandi …
img_20170120_071107
3 serangkai
img_20170120_071914
Mas Poer, betah2 di Bogor yak !

Terlihat sepi ya? memang. Masih di rangkaian hari kerja dan ini masih pagi bener. Yang terlihat disekitaran itu bapak dan atau ibu petani yang baru akan memulai pekerjaannya di kebun. Kalo di Jawa Barat mah seperti di Daerah Lembang, Cikole dan sekitarnya.

Bicara mengenai kenapa sempat ragu ikut trip ini karena :

1). sudah punya rencana pulang ke Sumedang dan akan mampir sebentar di Bandung sambil jalan-jalan ke beberapa tempat (sampai postingan ini dibuat, saya belum pulang juga coba);

2). trip dengan a large group of people is kind a hard, banyak kepala jadi banyak maunya. Ada yg mau sightseeing, ada yang maunya belanja, ada yang maunya kulineran dst. Lebih memilih pergi trip dalam kelompok kecil 2-5 orang;

3). Punya pengalaman tidak mengenakan dengan perjalanan panjang dengan naik bus. Dulu waktu naik bus Palembang – Bandung, sempat ditegur (malah kabarnya mau diturunin dari bus segala coba) karena pas tidur dan mendengkur dengan kerasnya. Malu uy.

Taman Tebing Breksi, Yogyakarta

Menurut Google, Tebing Breksi berlokasi di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Mei 2015, bukit kapur yang dahulunya adalah lokasi bekas tambang ini dicanangkan sebagai lokasi cagar budaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

img_20170120_131419
Tebing Breksi

Dicanangkannya Taman Tebing Breksi sebagai cagar budaya dikarenkan kondisi geologisnya. Batu kapur breksi di tebing ini rupanya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Taman Tebing Breksi berada di kawasan yang sama dengan  Candi Ijo dan Candi Ratu Boko.

img_20170120_132054
Smile . . .

Taman Tebing Breksi merupakan bongkahan tebing dengan pahatan dibeberapa sisi. Pahatan tersebut dibuat oleh seniman lokal berupa wayang. Lokasi wisata yang sedang naik daun dan Instagramable (coba cek #tebingbreksi di IG ) Bahkan banyak para calon pengantin yang melalukan sesi pemotretan pre-wedding di tempat ini.

Tidak ada tarif khusus yang diberlakukan untuk menikmati obyek wisata Taman Tebing Breksi. Cukup membayar pakir kendaraan saja.

img_0177
Sedang peras otak, mikir caption yang oke buat postingan di IG
img_0178
5 menit sebelumnya …

Selain pahatan raksasa di beberapa sisinya, daya tarik Tebing Breksi adalah pemandangan dari puncak tebing. Terdapat tangga yang mengantar pengunjung naik dari kaki sampai puncak tebing. Di puncak tebing, pengunjung bisa melihat panorama Candi Ijo dan Candi Ratu Boko berlatar Gunung Merapi dan Merbabu serta Kota Yogyakarta. Namun sayang, ketika kami disana cuaca agak kurang bersahabat dan turun hujan. Sehingga kami harus mencukupkan kunjungan kami di Taman Tebing Breksi.

img_0223
Pemandangan dari atas Tebing Breksi
img_20170120_133818-01
Di atas Tebing Breksi
img_20170120_133619
Selfie spot

Malioboro, Ikon Kota Yogyakarta

Dikarenakan kami harus mempersingkat kunjungan di Taman Tebing Breksi karena hujan, maka kami putuskan untuk ke Malioboro dan membeli oleh-oleh lebih awal. Hal ini disebabkan rencana perjalanan di Hari ke-2 cukup jauh dari Kota Yogya dan dikhawatirkan tidak punya cukup waktu untuk ke Malioboro.

img_20170120_163600
Kawasan Malioboro

Djogja bikin kangen. From Djogja with love. Begitulah tulisan yang ada di salah satu dinding Toko Djogja Holic dan saya 100% setuju. Sepuluh tahun yang lalu, sekitar Tahun 2006 semasa kuliah di Jatinangor ada Field Trip (ceunah, mah) ke beberapa Industri di Yogyakarta dan sekitarnya. Saya ingat, kunjungan ke FTP UGM, CV Karya Hidup Sentosa (Supplier sparepart tractor merek Kubota), Pabrik Kubota, Musium MURI dan lokasi embung di daerah Gunung Kidul (hey, we meet again) serta Malioboro. Jujur yang paling membekas adalah kunjungan ke Pabrik Kubota (Japan is so cool with all the greatness and efficiency, hasil doktrin nonton JDorama – Ueno Juri My love) dan kebersahajaan Kota Yogyakarta.

img_20170120_171649
Indeed . . .

Suka sekali berjalan di tengah kota yang trotoarnya lebar dan ada bangku2 taman tempat asyik bercengkrama dengan lawan bicara kita. Sejak saat itu, bicara dalam hati bahwa satu saat nanti harus ke Yogya lagi. And bamn !!! 10 tahun kemudian kembali bertemu dengannya. Selama 10 tahun terakhir, Kawasan Malioboro bermetamorfosa dengan sangat baiknya. It’s aged beautifully. Kaya, Tante Widyawati. Bahkan ketika malam tiba, ia terus mengeluarkan ke gorjesannya.

img_20170120_181849
Eh, di depan ada yang lagi bercengkrama . . .
img_20170120_185714
Happy faces . . .

Tujuan utamanya kan beli oleh-oleh ya, here we go …

img_20170120_152547
Mandatory …

img_20170120_171444

Saya tidak terlalu hobi belanja pakaian. But, hey ! since we are in Yogya, why don’t we bought a tshirt. Disini dapat pelajaran berharga. Harus cek dan ricek kalau beli sesuatu. Ukuran tertera XL tapi ternyata XL yang slimfit. Gak kepakai sama saya.

= = =

Dua lokasi yang dikunjungi adalah lokasi wisata yang sedang hits, kekinian dan Instagramable.

Segitu dulu, nanti lanjut ke Day 2. Makasih udah baca dan silahkan tinggalkan comment

Batu Dua : Kawasan Wisata Dirgantara di Sumedang

Kabupaten Sumedang terletak 45 km dari Kota Bandung dan dilintasi jalur Bandung-Cirebon (Sumber : wikipedia.org). Data tahun 2007, menyatakan Kabupaten Sumedang berpenduduk 1.1 juta jiwa.Well, pastinya sekarang sudah bertambah 3 jiwa karena saya dan kedua orang tua saya hijrah ke Sumedang sejak tahun 2008.

Sejak jaman dahulu Sumedang terkenal akan panganan Tahu. Namun, kini Sumedang tidak hanya identik dengan tahu, Waduk Jatigede mungkin. Atau beberapa destinasi wisata yang bisa Anda kunjungi salah satunya yaitu Kawasan Wisata Batu Dua.

asal-usul-tahu-sumedang
Tahu Bungkeng, sejak Tahun 1917   Sumber : ragamkuliner.com

Kawasan Wisata Batu Dua termasuk dalam kawasan Gunung Lingga di Desa Lingga Jaya, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang. Berjarak sekitar 4-5 Km dari Jalan Raya Sumedang РWado. Wilayah ini terletak pada ketinggian 930 meter di atas permukaan laut, dan menyuguhkan hamparan pemandangan alam yang mempesona.

img_20161030_084128_hdr
Bentangan Alam Waduk Jatigede dan sekitarnya dari Kawasan Wisata Batu Dua
img_20161030_084543_hdr
Bentangan Alam Sumedang dan sekitarnya dari Kawasan Wisata Batu Dua

Akses jalan menuju Kawasan Wisata Batu Dua kondisinya baik dan sudah diperkeras dengan pengaspalan. Walaupun dibeberapa titik ada potensi longsor. Karena kontur wilayahnya yang berbukit, saran saya ketika ingin mengunjungi tempat ini, transportasi yang Anda gunakan dalam kondisi baik.

img_20161030_092451_hdr
Gunung Tampomas

img_20161030_091030_hdr

Ada kisah menarik dibalik Kawasan Wisata Batu Dua ini. Menurut warga yang saya sempat temui disana, cerita awal terbukanya Kawasan Wisata Batu Dua ini yaitu lewat program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM Mandiri Perdesaan dan PPIP. Lewat program tersebut dibangunlah kelengkapan infrastruktur desa termasuk didalamnya akses jalan. Masyarakat bersama pemerintah setempat berembug dan merencanakan pembangunan serta potensi pengembangan kawasan. Sampai akhirnya dibangunlah Kawasan Wisata Batu Dua.

Adanya panas kawasan dan hembusan angin di sekitar Kawasan Wisata Batu Dua sangat mendukung olahraga paralayang. Panas kawasan bisa menerbangkan paralayang lebih tinggi lagi, lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Sehingga bisa terbang lebih lama. Hembusan angin membuatnya bisa melakukan manuver serta bisa mencapai berbagai tempat pendaratan yang tersedia.

Tahun 2013 yang lalu, Batu Dua menjadi tempat diselenggarakannya¬†Kejuaraan Pra Piala Dunia Paralayang ‚ÄúIndonesia Pre World Cup 2013, Batu Dua Open‚ÄĚ pada Minggu (29/9/13), yang secara resmi dibuka oleh Bupati Sumedang H. Endang Sukandar. Dan di Tahun 2016, sebagai tempat diselenggarakannya cabang olahraga Paralayang PON ke-XIX Jawa Barat.

img_20160919_112706
Pertandingan Cabang Olah Raga Paralayang PON ke – XIX 2016 di Batu Dua, Sumedang Sumber : tribratanewsjabar.com

Jangan takut kelaparan, karena di seputaran areal parkir ada banyak warung/kios yang menjual makanan dan minuman. Ada bisa makan bandros dengan sepuasnya. Hayu ameng ka Sumedang.

Suatu Siang di Gasibu

Minggu lalu, dalam perjalanan menuju Sumedang. Saya menyempatkan diri untuk istirahat sejenak diseputaran Lapangan Gasibu, Kota Bandung. Ngadem ceritanya sambil nunggu tukang gehu pedas. Mungkin saja ada yang lewat.

img_20161014_122008

Setelah parkir motor, lalu berjalan ke arah depan Gedung Sate. Duduk santai di bawah pohon rindang. Asyik. Ternyata disambut sama maskot PON ke XIX Tahun 2016, dua ekor surili (lala dan lili). Wilujeung Sumping, di Kota Bandung !!!

img_20161014_122733
Gedung Sate
img_20161014_122506
Lala dan Lili

Sejak dulu, lapangan Gasibu dikenal sebagai salah satu tempat olah raga dan nongkrong yang asyik. Tiap pagi, siang atau sore sering terlihat masyarakat yang sedang jalan santai, berlari ataupun sekedar duduk bersantai bersama teman atau kerabatnya. Kini lapangan Gasibu sudah selesai dipugar. Dan hasilnya cakep. Saya mau da klo disuruh lari 15 keliling disini ūüôā

img_20161014_123606_hdr
Lapangan Gasibu
img_20161014_123034
Jogging track
img_20161021_193613
Jogging track

Jadi, ketika main/mampir ke Bandung lagi harus diagendakan untuk mencicipi lintasan lari ini. Gak boleh ketinggalan lagi perlengapan larinya. he he he