Mudik H-1

Karena satu dan lain hal (baca : jatuh dari motor, dengkul busrut dan lebam) saya baru berangkat mudik ke Darmaraja, Sumedang satu hari menjelang lebaran atau H-1. Rencana awal, akan berangkat mudik di Hari Rabu (21/06). Tapi Tuhan punya rencana lain.

Saya sempat mengurungkan niat mudik dengan sepeda motor dan akan naik transportasi umum saja. Untuk keamanan motor akan dititipkan di Polresta Depok. Oiya, Polresta Depok menyediakan pelayanan penitipan kendaraan bermotor baik roda 2 ataupun roda 4 selama masa libur lebaran bagi masyarakat yang akan mudik. Gratisss. Cukup bawa fotokopi SIM dan STNK, kendaraan Anda bisa dititip. Layanan tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun kebelakang.

Alasan lainnya karena rute via Jonggol yang biasa saya lalui, tepatnya Jembatan Cipamingkis patah. Jadi akses kendaraan dari Jonggol ke Cariu atau sebaliknya terhambat dan harus melalui jalur alternatif lainnya. Namun, pada akhirnya saya tetap mudik dengan mengendarai sepeda motor dan melalui Jalur Puncak.

Processed with VSCO with c1 preset
berangkattt !

Bisa dibilang semesta bersekongkol memberikan kemudahan buat saya dalam perjalanan mudik kemarin. Cuaca yang teduh, agak berangin dan gerimis kecil-kecil; serta rute perjalanan Depok – Bogor – Cianjur – Bandung – Sumedang yang relatif lancar. *SujudSyukur

Kepadatan hanya terjadi di 4 kawasan, yaitu Pasar Cibinong, Pasar Cisarua, Pasar Ujung Berung dan Pasar Tanjungsari-Alun2. Di kawasan pasar, bisa menebakkan kenapanya?! Lintas Padalarang dan Cibiru – Cileunyi yang biasanya macetnya gak santai, kemarin itu relatif lancar. [Hoorayyy]

 

Processed with VSCO with c1 preset
Menanjak, Menurun dan Berkelok di Kawasan Puncak, Bogor
Processed with VSCO with c1 preset
Rute Perjalanan Relatif Lancar

Asyiknya mudik dengan kendaraan pribadi adalah kita yang menentukan ritme perjalanan. Mau jalan terus atau berhenti beberapa saat ketika menemukan tempat yang enak untuk rehat. Tidak melulu direst area. Ataupun bisa mampir ke lokasi wisata. Nah, kemarin saya memilih rehat sejenak dan naik ke Bukit Si Kabayan di Objek Wisata Alam Ciliwung Telaga Warna, Kebun Teh Ciliwung, Puncak.

Processed with VSCO with c1 preset
Path to the awesomeness
Processed with VSCO with c1 preset
Di atas Bukit Si Kabayan

Lokasi    : Bukit Si Kabayan, Kebun Teh Ciliwung

HTM       : Rp10.000,-/orang

Fasilitas : Sightseeing; Hiking; Selfie/Wefie Spot; Flying Fox

Letaknya yang persis diperbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur (dekat patok perbatasan) atau naik sedikit setelah Restoran Rindu Alam kalau dari arah Bogor dan setelah puncak pass kalau datang dari arah Cianjur. Naik tangganya lumayan bikin hahehoh. Kalem aja pas naiknya. Tapi setelah sampai di atas, wow kece beud pemandanganya. Anda bisa foto2 atau sightseeing sepuasnya.

Menurut saya, lokasinya not suitable for children under 10 yo. Apalagi kalau anaknya petakilan. Ataupun kalau mau bawa anaknya ke naik ke bukit ini para orang tua harus ekstra perhatiannya.

Processed with VSCO with g3 preset
Me, liking this …

 

Processed with VSCO with c1 preset
Pemandangan Dari Atas Bukit Si Kabayan
Processed with VSCO with c1 preset
Area Flying Fox untuk Adrenaline Seeker

Sepertinya ada yang jualan di atas sini. Kalau sedang tidak puasa, sepertinya boleh juga menyeruput minuman hangat (kopi/susu/teh) atau mie rebus dan bakso chuanky ditemani tamparan lembut angin sepoi-sepoi dipipi Anda. Yakan … kan

Processed with VSCO with c1 preset
Tida’ atau belum jualan si mang nya

Setelah 11 jam perjalanan (udah sama istirahat beberapa kali dan jalan2 di Bukit Si Kabayan dan Lapangan Gasibu) akhirnya sampai juga di Darmaraja, Sumedang. Wohooo.

Jadi, pada mau ngisi libur lebaran kemana nih ?

Advertisements

Ziarah

Dua pekan yang lalu, tepatnya di Hari Senin 5 Juni 2017 memutuskan untuk ngabuburit ke Blok M – Jakarta. Tujuannya satu, yaitu nonton Film Ziarah karya dari Produser, Sutradara dan Penulis BW Purba Negara. Tertarik liat film ini setelah melihat beberapa cuitan yang intinya bilang ‘tuk sempatkan nonton film.

Film Ziarah_01
Sumber : facebook.com

Salah satu keinginan dari Mbah Sri diusia senjanya adalah ketika ia meninggal nanti, ia ingin dikuburkan berdampingan dengan makam sang suami yaitu Mbah Prawiro. Sang suami pergi berperang pada Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948. Namun, setelah perang usai, Mbah Prawiro tak pernah kembali.

Berbekal informasi seadanya dari beberapa veteran perang yang dahulu pernah mengenal atau tahu mengenai suaminya, Mbah Sri mendatangi satu per satu tempat tersebut. Walaupun demikian kenyataan yang ada tak seindah harapan.

IMG_20170605_184800_633
Nonton Film Ziarah di Blok M Square 21

Dikemas dengan sederhana, alur yang lambat ( hati2x, jangan sampai tertidur ), bentangan alam perdesaan yang khas dan disajkan mayoritas dalam bahasa Jawa, Film Ziarah mampu meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Deep …

Tidak sia-sia menempuh perjalanan dengan Commuter Line dan Bus Trans Jakarta dari Depok sampai ke Blok M. Ponco Sutiyem sebagai Mbah Sri mampu menampilkan sosok yang gigih, sabar sekaligus ikhlas. Selain Ponco Sutiyem, film ini juga didukung oleh Rukman Rosadi, Ledjar Subroto dan Vera Prifatamasari.

Film Ziarah_02

Film Ziarah berhasil meraih dua penghargaan yang diraih tersebut adalah untuk kategori Best Screenplay dan Special Jury Award dalam ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) di Kuching, Serawak, Malaysia. Sedangkan lewat peran Mbah Sri, Ponco Sutiyem diganjar nominasi sebagai Artis terbaik di ajang yang sama.

Pesan moral yang saya tangkap dari Film Ziarah adalah Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

.

.

.

SPOILER ALERT !!!

Setelah perjalanan panjang ( 87 menit dalam film) Mbah Sri berhasil menemukan makam Mbah Prawiro. Etapi, dia seperti menelan pil pahit. Kenapa? Karena ternyata disisi makam tersebut sudah ada makam lainnya. Makam seorang perempuan yang kuat dugaannya adalah istri lainnya dari Mbah Prawiro.

Periiih …. Dicukain ….

Si Mbah Sri harus ikhlas dan sabar  😦