The Girl on the Train

Akhirnya selesai juga baca Novel Thriller karangan Paula Hawkins ini. Fiuhhh. Empat ratus tiga puluh halaman aja.

Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, lewat tokoh Rachel Watson, Anna Watson dan Meghan Hipwell. Menceritakan tentang misteri menghilangnya Meghan.

Cerita berawal dari kepo maksimalnya Rachel Watson. Pada weekdays, dia naik kereta ke London di pagi hari dan pulang di sore harinya. Layaknya orang kerja. Nah ketika mau masuk Stasiun Whitney, dia seringkali memperhatikan perumahan dipinggir rel kereta. Khususnya rumah nomer lima belas, dimana disitu tinggal sepasang suami istri yang tampak bahagia. Sebut saja Jason dan Jess.

Namun, pada suatu hari Rachel melihat sesuatu yang membuat dia merubah pandangannya terhadap pasangan suami istri tersebut. Later on, sang istri yang akhirnya diketahui bernama Meghan Hipwell dikabarkan menghilang tanpa pesan. Jenggrengggg!!!! Why? Apakah karena hal โ€œituโ€?

Ceritanya disusun dalam urutan waktu tertentu dari si Meghan ini menghilang sampai akhirnya diketemukan. Alurnya back and forth. Tiap lamannya terkuak fakta sedikit demi sedikit tentang kejadian tersebut.

Waktu membaca buku ini, sang pembaca seperti diajak jadi profiler di Behavioural Analysis Unit-FBI nya Criminal Minds yang sedang menangani kasus Desperate Housewives. Awalnya sempat juga berpikir, โ€œhmmmm, kyk Gone Girl kali ini?!โ€

Thereโ€™s a but. Iโ€™m not gonna tell all the story. Baca dah bukunya. #1 NY Times Best Seller aja kali.

Oia, ternyata kepo itu baik yak. Kalo tokoh Rachel Watson ini gak kemal alias kepo maksimal, kagak jadi ini buku.

#review #book #TheGirlontheTrain #PaulaHawkins

Darmaraja, 19 Maret 2016

heyrul_

Advertisements